Jatuhnya Pesawat Lion Air Keamanan Penerbangan Indonesia dipertanyakan


Kecelakaan tragis pada Pesawat Lion Air JT610 mengejutkan para pemangku kepentingan industry penerbangan, dimulai dari pengguna jasa penerbangan, maskapai, hingga regulator pesawat terbang. Hal tersebut juga mengundang banyak pertanyaan menegnai system kemanan perbangan di negeri ini, terutama pada maskapai penerbangan.


Seperti yang kita ketahui, maskapai Lion Air memiliki track record yang kurang baik sampai di mata internasioal. Yaitu perizinan terbang maskapai tersebut yang sempat dilarang menurut peraturan UE pada tahun 2016 karena dianggap maskapai  tidak memenuhi standar kemanan internasional.


Sejak jatuhnya pesawat tersebut pada 29 oktober 2018, membuat banyak pihak bertanya Tanya, apa sebenarnya penyebab dari jatuhnya Lion Air JT 610?. Padahal menurut informasi pesawat jenis Boeing 737 Max 8 ini baru di beli dari Amerika Serikat pada Agustus dan baru resmi digunakan pada 15 Agustus 2018 dan tentunya pesawat masih tergolong baru. Lion air mengakui sempat ada permasalahan saat uji coba dilakukan dari bandara Ngurah rai Denpasar ke bandara Soekarano hatta. Lalu jika memang terjadi kesalahan mengapa pihak maskapai tetap mengizinkan Lion Air JT610 untuk terbang? Apakah kesalahan mungkin terjadi pada regulasi pesawat kah atau pad teknis pengmanan yang kurang memadai?


Sejak kotak hitam atau Black box ditemukan, kemungkinan bahwa pesawat Lion Air memiliki keruasakan pada indikator kecepatan udara.Yaitu di buktikan dengan rekamana pesawat pada black box yang bergerak tidak menentu selama penerbangan akhirnya. Hal tersebut menyebabkan spekulasi bahwa hal in ini bisa menjadi masalah. Kecepatan udara diukur menggunakan sensor yang disebut pitot tube, yang merekam tekanan pada sayap atau permukaan depan pesawat. Tahun 2009, misalnya, penerbangan Air France menukik turun di dekat lepas pantai Brazil. Yang disebabkan oleh Pitot tube yang terblokir dan memicu rantai kejadian di mana pilot menjadi bingung, kehilangan arah, dan kehilangan kendali, meskipun dalam setiap hal lainnya, pesawat itu bekerja dengan sempurna.

Ini masih merupakan hari-hari awal penyelidikan sehingga akan dibutuhkan lebih banyak informasi. Tetapi jika pembacaan kecepatan udara yang tidak dapat diandalkan merupakan salah satu faktor, pertanyaan utamanya adalah: apa penyebabnya, misalnya desain yang buruk atau prosedur pemeliharaan yang buruk, dan mengapa masalah sebelumnya tampaknya tidak diperbaiki.“saat ini kami sedang mencari penyebab masalah” kata peneliti Nurcahyo Utomo dalinsir dari Associated Press.”Apakah masalah berasal dari regulasi, alat pengukur atau sensor atau masalah dengan computer. Dan selanjutnya Pemerintah indoesia juga memerintahkan pemerikasaan pada semua pesawat Boeing 737 max Negara setelah peristiwa kecelakaan Pesawat Lion Air JT610 itu.  (sumber berita : Mata mata politik)


Comments